Naiknya Harga Minyak Mentah Di Tengah Dolar AS yang Sedang Lesu

Pada pembukaan perdagangan awal sesi Eropa hari Selasa 9 April 2019, Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0.13 persen ke kisaran 96.92, seiring menguatnya mata uang utama lainnya. Saat berita ditulis, komoditas yang didorong oleh berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah. harga minyak mentah tipe WTI tembus level USD.64.50 per barel, sementara minyak Brent diperdagangkan pada kisaran USD.71.70 per barel.

Naiknya Harga Minyak Mentah Di Tengah Dolar AS yang Sedang Lesu

Sejumlah perkembangan terbaru selama lima bulan terakhir mendorong penguatan harga minyak ke level tertinggi. Para Pelaku pasar mengekspektasikan suplai minyak secara global semakin ketat sehubungan dengan memanasnya konflik bersenjata di Libya, penerapan pada kuota produksi oleh OPEC, serta telah diberlakukannya sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan Venezuela. Berbagai problem permasalahan tersebut mengalihkan perhatian pasar global dari masalah brexit dan negosiasi dagang AS-China.

Pembahasan mengenai Topik seperti perundingan kesepakatan perdagangan AS-China dan masalah brexit jadi agak usang dan tidak lagi menyediakan banyak insentif bagi pasar forex. Dalam kondisi yang seperti itu, reli terhadap harga minyak mentah berdampak pada fokus lain bagi pasar,” kata Bart Wakabayashi dari State Street Bank, Tokyo.

Naiknya harga minyak mentah tersebut membangkitkan gairan beli atas comdoll, sehingga pairs mata uang AUD/USD menguat sekitar 0.3 persen di kisaran 0.7147 dan pairs USD/CAD menurun 0.10 persen di kisaran 1.3301. Di sisi lain, Dolar AS masih melamban akibat dari laju pertumbuhan gaji yang dilaporkan dalam data ketenagakerjaan akhir pekan lalu.

Dikutip dari Reuters. Ahli strategi senior di Barclays Tokyo, Shin Kadota menyatakan, Kekuatan Dolar tertinggi pada akhir pekan lalu, ketika rilis data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan laju kenaikan gaji yang telah melambat. Dolar AS belum berhasil menemukan pijakan sejak saat itu,” Lanjutnya, β€œDan dengan naiknya yield obligasi pemerintah AS tidak banyak mendongkrak Dolar, karena kenaikan tersebut levelnya masih tetap rendah dalam perhitungan absolut.”

Pada akhir perdagangan sesi New York kemarin, yield obligasi AS bertenor 10-tahunan mengalami kenaikan kembali ke 2.52 persen, semakin jauh dari level terendah 15-bulan di kisaran 2.34 persen. Namun demikian, angka yield masih jauh di bawah level tertinggi pada 2.8 persen yang sempat tercapai awal bulan Maret.

Klik icon dibawah untuk Membagikan Tulisan ini

Leave a Comment